Nike Ardilla Meninggal, Penyanyi Ini Coba Gantikan...

JAKARTA - Peringatan ulangtahun mendiang Diva Pop Nike Ardilla pada Kamis (27/12/2012) kemarin mengingatkan pada sosok penyanyi bernama Diana Utami Baca Lagi ...

Menjanjikan.....Listrik dari Gelombang Laut

Gelombang laut dan bandul lonceng menjadi inspirasi Zamrisyaf. Periset pada Divisi Penelitian dan Pengembangan PT PLN (Persero) ini merancang pembangkit Baca Lagi ...

Benarkah 2012 Dunia Bakal Kiamat?

MEXICO - Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2011 dan memasuki tahun baru 2012. Namun sebuah kekhawatiran muncul. Benarkah tahun 2012 Baca Lagi ...

Rugi Rp 58,2 Triliun, Sony PHK 10 Ribu Karyawan

Jakarta - Raksasa elektronik Sony memutuskan untuk melebur sejumlah divisi produknya dan memulangkan 10 ribu karyawannya sebagai imbas Baca Lagi ...

Mantaappp ..... 12 Spesies Katak Langka Ditemukan

Sebanyak 12 spesies katak langka ditemukan di wilayah India, ditambah penemuan kembali 3 spesies yang semula diduga punah. Penemuan ini menunjukkan Baca Lagi ...

Ini Daftar 40 Orang Terkaya Indonesia

Jakarta - Posisi 3 besar dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia nyaris tidak pernah berubah. Mereka selalu mendominasi daftar orang kaya Baca Lagi ...

Karayawan Apple Ungkap Rahasia 'Sihir' Steve Jobs, Tertarik Melamar?

Selasa, 10 Mei 2011 14:49 WIB

Mengungkap bagaimana Steve Jobs menahkodai Apple seperti membuka rahasia dibalik 'magician tricks' atau 'trik pesulap'. Beberapa 'asisten' pesulap di perusahaan itu pun baru-baru ini melanggar sumpah untuk tutup mulut.

Dalam ficer panjang berjudul "Inside Apple", redaktur Majalah Fortune, Adam Lashinsky, melukiskan gambaran jelas seperti apa bekerja di Apple. Tulisan itu ia buat berdasar puluhan wawancara dengan karyawan maupun manta pekerja di perusahaan tersebut. Singkatnya: ini sangat mirip seperti bekerja untuk raksasa dengan toleransi rendah terhadap ketidaksempurnaan.

Ambil contoh, peluncuran layanan web MobileMe milik Apple pada 2008 yang dipenuhi dengan bug dan pemadaman memalukan terhadap email ribuan pelanggan. Produk yang dirilis itu berkualitas sangat rendh sehingga para kritikus melabeli dengan "MobilMess'

Job tidak menganggap enteng hal itu, menurut Fortune.

"Bisakah seseorang memberi tahu saya apa yang seharusnya dilakukan MobileMe?" tanya Jobs berulang kali kepada tim MobileMe setelah peluncuran yang serba tergagap-gagap. Ketika ia menerima jawaban, ia meneruskan ucapannya ditambah dengan sumpah serapah "Lalu mengapa ia tidak bisa melakukan itu."

Jobs tidak berhenti sampai di sana.

"Kalian telah mencoreng reputasi Apple," ujarnya dan dilaporkan ia mengatakan itu berulang kali pada tim MobileMe. "Kalian seharusnya membenci satu sama lain karena telah menjatuhkan satu sama lain."

Segera, Jobs menunjuk nama eksektif baru untuk menjalankan MobileMe. Tak lama setelah rapat, tim dibubarkan dan sebagian besar anggota digusur.

Dalam mengoperasikan perusahaan, CEO Apple yang penuh energi serta gampang berubah temperamen itu dikenal seperti dktator kejam, terutama menyangkut urusan kerahasiaan bahkan bisa disandingkan dengan CIA.

Fortune, lewan ficer tersebut, melakukan tugasnya dengan baik menyingkap budaya perusahaan di Apple, yang baru-baru ini menyalip posisi Google menjadi perusahaan paling berharga di dunia.

Tulisan ambisius sebelumnya yang menganalisa budaya Apple datang dari mantan wartawan majalah IT dan sains terkemuka, Wired, Leander Kahney dengan cerita sampul pada 2008, berjudul “How Apple Got Everything Right by Doing Everything Wrong.”

Untuk memahat tulisannya, Kahney mewawancara beberapa mantan pegawai, termasuk Guy Kawasaki, yang menggambarkan Jobs sebagai manajer yang berhasil membuktikan “it’s OK to be an as***le.”

Kahney juga mengelaborasi mengapa budaya Apple mengenai kerahasiaan juga baik untuk perusahaan. "Pendekatan itu sangat krusial bagi sukses perusahaan, membuat Apple mampu menyerang lewat kategori produk baru dan meraup pasar sebelum pesaing bangun dan tersadar. Perlu diketahui Apple butuh tiga tahun untuk mengembangkan iPhone secara rahasia, itu, itu berarti mereka telah maju tiga tahun dalam persaingan.

Menambah detail terhadap gambaran Apple, Fortune menawarkan gigitan yang cukup menarik, yakni tentang grup elit dalam perusahaan dikenal sebagai Top 100. Jobs selalu mengumpulkan individu perkecualian ini untuk menghadiri rapat rahasia selama tiga hari, juga di tempat yang tak diketahui selain Jobs dan 100 orang tadi.

Mengingat rapat itu begitu penting, anggota Top 100 diberitahu untuk tidak menandai agenda mereka dan bahkan mereka pun tidak diizinkan untuk berkendara sendiri menuju lokasi.

Selama rapat bersama Top 100, Jobs dan pettingginya, "menginformasikan kepada grup paling berpengaruh itu tentang haluan yang akan dituju Apple," demikian tulis Lashinsky. Di sini, beberapa anggota Top 100 mendapat kesempatan tampil untuk mempresentasikan strategi atau produk yang memberi tanda 'masa depan' perusahaan. Menurut salah satu pekerja, Jobs pertama kali menunjukkan iPod kepada karyawan yakni pada pertemuan Top 100.

Diluar tatap muka dramatis dengan Top 100, Jobs juga melakukan pertemuan dengan para eksekutif setiap Senin untuk mendiskusikan proyek penting. Lalu, tulis Fortune, pada Rabu, ia menggelar rapat dengan divisi pemasaran dan komunikasi.

Tak ada dalih atau permakluman bagi pekerja untuk bingung setelah rapat usai. Sebuah rapat efektif Apple pasti akan menyertakan 'daftar aksi' dan di samping item-item aksi tersebut terdapat 'DRI'.

Itu adalah directly responsible individual atau Individu yang bertanggung jawab langsung, alias siapa-siapa yang bertugas memastikan pekerjaan telah diselesaikan dengan baik dan benar

Sementara untuk para petinggi seperti wakil presiden (VP), Jobs, dilaporkan, memberi pidato yang sama kepada mereka berulang-ulang. Pada dasarnya, ketika anda adalah karyawan di tingkat manajerial, tidak ada alasan bagi anda untuk mengacau.

"Bila anda adalah tukang bersih kakus," ujar Jobs--yang dilaporkan menyatakan itu berulang kali--kepada VPnya, "alasan/dalih itu penting". Ia melanjutkan, "Di suatu tempat antara janitor dan CEO, dalih berhenti menjadi penting."

Mungkin bagian paling seru dari artikel itu adalah ulasan sebuah program bernama Apple University.

Sebelum cuti kedua karena alasan kesehatan tiga tahun lalu, Jobs menggaji dekan Fakultas Manajemen, Universitas Yale, Joel Podolny, untuk memimpin Apple University. Podolny lalu mempekerjakan tim berisi guru besar ekonomi untuk menulis satu seri studi kasus internal mengenai keputusan paling berpengaruh dalam sejarah terkini Apple.

Apa tujuannya? Demi memastikan bahwa Apple tetap menjadi Apple pada waktunya nanti Jobs meninggalkan perusahaan. Maklum, para investor dan pengamat teknologi berdebat selama bertahun-tahun mengenai apakah Apple dapat terus sukses tanpa pemimpine yang visioner, yang telah membentuk perusahaan pada hari pertama berdiri?

Itu tetap menjadi pertanyaan terbuka. Namun tujuan Apple University sepertinya untuk mempersiapkan hari ketika pertunjukkan harus terus berjalan tanpa kehadiran sang pesulap.


Dre@ming Post_____________
sumber : Republika

Berita Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Isi Artikel